Workshop Poster to Publish

Our upcoming event is in less than two weeks!

Based on OECD (2012), McKinsey Global Institute (2012), and World Bank (2010), Indonesia has an enormous potential to become one of the Top 10 economies in 2030. Inevitably, many multinational companies will establish their resources such as technologies, knowledge and human capital in Indonesia. It needs cultural intelligence and intercultural competencies to integrate two or more culture in one globalized workplace. Successful integration between multinational companies and Indonesian at the workplaces depends on learning efforts from all sides. Although Indonesian unconsciously has developed a high degree of intra-cultural competence in dealing with the extraordinary diversity of their country, they nevertheless are struggling with adapting to the inter-cultural requirements of a global workplace. It is because Indonesian often determined by “Western” culture and do often not match with Indonesian cultural values and norms. Therefore, creating real synergies at workplace becomes a big challenge not only for Indonesia's young professionals but also foreign partners. When culturally different individuals engage with one another, they need to be aware of the cultural commonalities and differences, in order to appreciate them and finally to transform them into the group of synergy. In other words, in the age of globalization, the interacting partners need to develop cultural intelligence and intercultural competencies.

This time for obtaining the true learning about Indonesian foreign partner especially the Swiss, we collaborate with Institut für Kommunikation und Interkulturelle Kompetenz,Hochschule für Technik Rapperswil (HSR).

Intercultural Leadership and Learning is series of events for learning by workshop, business excursion, and conference. These events will take place on 31st of August until 4th September 2015 with two days workshop, two days conference, and one day business excursion. Events main activity will be held in Atma Jaya Catholic University of Indonesia, Jakarta.

During two days workshop (31 Aug. – 1 Sept.) and business excursion (4 Sept.) , experts from the Global Indonesian Networks and HSR will provide you with both, results of intercultural research about the dynamics of Swiss-Indonesian cooperation as well as strategies for developing synergies in daily cooperation.

With only 24 seats available, make sure to put your name on our participants list!

 

 

_DSC4285

Pada Kamis, 6 Agustus lalu Dr. Hora Tjitra, Executive     Director dari Tjitra & Associate serta founder dari Global Indonesian Network berkesempatan untuk menjadi pembicara pada Forum Human Capital Indonesia (FHCI). FHCI merupakan sebuah forum yang digagas oleh para praktisi HR khusus dari BUMN. Forum yang bertujuan untuk menjadi think-thank bagi para HR BUMN dalam saling sharing problem solving ini dilaksanakan secara rutin dan bergilir. Kali ini AirNav Indonesia, sebagai satu-satunya BUMN yang bergerak dalam bidang navigasi udara  mendapatkan giliran untuk menjadi host dengan menggagas tema mengenai Global Leader for BUMN. Sharing session pada kesempatan tersebut diadakan di kantor pusat AirNav Indonesia yang terletak di Tangerang. Peserta yang hadir pun datang dari BUMN terkemuka seperti Garuda, PT. PAL, Telkom, Krakatau Steel, Wijaya Karya, dan tentunya AirNav Indonesia. Mengutip ketua Umum FHCI periode 2015 – 2016 yaitu Herdy Harman pada pidato pembukanya, bahwa setiap pengelola SDM, BOD dan komisioner dari Stateholder harus memiliki dimensi International Perspective. Karena global leadership kelak akan dijadikan parameter assessment di Kementrian BUMN. Oleh karena itu Human Capital menjadi trend, dengan mengedepankan nilai “people is the core” agar FHCI dapat membantu kemajuan BUMN.

Dalam sharing session-nya, Dr. Hora Tjitra banyak membahas mengenai Global Competence yang perlu diketahui oleh Global Leader dalam persiapan menuju kerjasama dan juga kompetisi Internasional. Dr. Hora Tjitra juga menekankan bahwa Indonesia telah menjadi Darling Spot bagi international business dan menjadi bahan pertimbangan perusahaan asing untuk berekspansi. Internasionalisasi dan kompetisi global menjadi hal yang booming di Indonesia, hal ini dapat dilihat dari dana yang dialokasikan untuk Leadership Development kepada para executives di Indonesia yang akan menarik potensi asing yang datang ke Indonesia. Dr. Hora  Tjitra juga menekankan bahwa setelah potensi asing datang maka executives Indonesia harus dapat membimbing ketertarikan dunia internasional ke Indonesia menjadi realita dan merubah investasi asing untuk mendapatkan keuntungan yang lebih banyak bagi Indonesia. Pengalaman budaya  masyarakat Indonesia yang diverse (Intercultural Competence) dan Culture Sensitivity orang Indonesia juga merupakan suatu benefit. Culture bukan hanya mengenai internasionalisasi, akan tetapi kacamata yang dipakai seseorang dalam melihat suatu isu dan mengadaptasikan sensitivitasnya melihat isu tersebut.

_DSC4282

Jimmy Gani, Ph.D sebagai Keynote Speaker setelahnya menekankan pentingnya kompetisi dan kerjasama regional, mengingat AEC yang akan dilaksanakan pada Desember 2015. Ia menambahkan bahwa Indonesia adalah negara yang telah mempunyai potensi luar biasa namun pada sisi daya saing masih banyak yang harus diperbaiki. Untuk menambahkan daya saing, Indonesian Global Leader harus mempunyai Global Mindset. Dalam jaman borderless nation sekarang ini, business bukan hanya mengenai Global Chain tetapi juga Global Value. Ia juga menekankan mengenai customer trend yaitu metode yang mengedepankan customer yang diaplikasikan oleh Worldclass Company masa kini.

Salah satu pertanyaan pada sesi tanya jawab dan ngobrol santai dalam Global Leader for BUMN sharing session adalah bagaimana caranya untuk menarik minat potensi asing yang telah mempunyai pandangan tertentu yaitu ketidak-tertarikan dalam melihat Indonesia, khususnya melihat BUMN di mata potensi asing. Dalam menanggapi pertanyaan ini, Dr. Hora Tjitra berpendapat bahwa hal tersebut berpusat pada Ethnocentrism, oleh karena itu hal tersebut dapat dirubah dengan mengganti kacamata culture yang dikenakan oleh orang tersebut terhadap kita melalui cara menjelaskan keadaan Indonesia dalam cara yang singkat dan menarik dengan menggunakan kacamata pihak asing tersebut. Acara FHCI kali ini diakhiri dengan halal-bihalal diantara seluruh peserta yang hadir. 

 

 

 

Invitation GINET15 v.5 copy.001

Here is our upcoming event that will be held in this March 2015. Want to know what the topic that will be discussed about? Do not hesitate to contact our contact person (Indah Suciati: 0856 4151 2129  / 0897 9828 051)

To get updates on the event please follow our social media platform (twitter, facebook)

 

 

 

 

Coming Soon Teaser 2014The 14th Event of Global Indonesian Network. Coming to you by the end of 2014.

To get updates on the event Follow https://twitter.com/Glob_Indonesian

Like Global Indonesian Network Facebook Page http://on.fb.me/1tDAY5q 

Join our LinkedIn Discussions http://linkd.in/1v4JYGA

 

Our Previous Event : 

Tagged with:
 

Pada hari Kamis, 28 Agustus 2014 bertempat di Gran Melia Hotel Jakarta, LPTUI (Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia) menyelenggarakan sebuah seminar yang bertemakan “Generasi Y Indonesia.”

Seminar yang diselanggarakan dalam rangka memperingati hari ulang tahun dari LPTUI ini menghadirkan dua pembicara papan atas dalam bidang psikologi yakni Dr. Hora Tjitra, Executive Director serta Chief Consultant dari Tjitra & Associates yang membawakan topik mengenai “Managing Diversity: Generation Clash at Workplace” dan Dr. Bagus Takwin, Dosen Fakultas Psikologi di Universitas Indonesia yang membahas mengenai “Seberapa Jauh Generasi Y Berbeda: Karakteristik Psikologis Generasi Y dan Implikasinya di Dunia Kerja

Topik pada sesi pertama dimulai dengan penjelasan dari Dr. Hora Tjitra mengenai generasi Y dalam dunia kerja dan nilai-nilai yang mereka junjung. Dr. Hora Tjitra banyak bercerita mengenai Cultural Diversity serta pertentangan-pertentangan nilai yang terjadi di setiap negara berdasarkan pengalamannya belajar dan bekerja di Jerman dan China selama lebih dari 10 tahun. Bahwa banyak terjadi clash dalam tiap generasi yang menilai bahwa generasi yang ada sesudahnya memiliki ambisi yang tinggi dengan mengorbankan nilai kesopanan. Dalam presentasinya. Tjitra juga memaparkan mengenai generasi-generasi yang ada beserta perbedaannya mulai dari Baby Boomers yang lahir antara tahun 1940-1960, Generation X yang lahir pada tahun 1960-1980, dan Generation Y yang lahir dari tahun 1980-2000 serta bagaimana proses pembentukan mental tiap generasi tidak lepas dari Historical Events yang terjadi di negaranya pada tahun yang bersangkutan. Salah satu contohnya adalah bagaimana generasi Baby boomers memiliki mental yang lebih tangguh dikarenakan perang yang berkecamuk di era kelahiran mereka. Sementara generasi Y dikarenakan mudahnya jaringan informasi dan tingginya tingkat toleransi dalam mengutarakan pendapat dibanding generasi sebelumnya, memberi pengaruh bagi generasi Y untuk lebih berani, kritis dan ekspresif dalam menyuarakan apa yang ada di dalam benaknya.

Setelah break sejenak, Dr. Bagus Takwin menjelaskan mengenai topik “Seberapa Jauh Generasi Y Berbeda : Karakteristik Psikologis Generasi Y dan Implikasinya di Dunia Kerja”.  Sebagai seorang akademisi psikologi dari salah satu universitas terkemuka di Indonesia, ia memiliki banyak interaksi dengan generasi Y yang menimba ilmu di unversitas tersebut. Berangkat dari hal tersebut, Dr. Bagus Takwin mengadakan penelitian mengenai perbandingan Nilai Moral yang ada di generasi X dan generasi Y.  Berdasarkan penelitiannya terhadap 2417 orang responden, nampak bahwa terjadi perbedaan signifikan pada nilai moral generasi X yang lebih tinggi dari generasi Y. Karena berdasarkan kebutuhan psikologis generasi Y yang menjadi prioritas adalah kebutuhan Eksebisi (Kebutuhan untuk menjadi pusat perhatian), Afiliasi (Kebutuhan untuk membentuk persahabatan yang kuat), dan Succorance (Kebutuhan akan adanya seseorang untuk menerima dukungan dan perhatian orang lain).

Berbagai pertanyaan menarik datang dari para peserta yang menghadiri seminar saat sesi tanya jawab. Mulai dari akademisi yang datang dari Universitas Hasanuddin Makassar, para praktisi HR dari perusahaan-perusahaan terkemuka seperti Garuda Indonesia, Astra International, hingga Pegawai Negeri Sipil yang terlihat sangat antusias untuk bertanya dan melakukan diskusi dengan Dr. Hora Tjitra dan Dr. Bagus Takwin mengenai topik terkait. “Dalam menghargai Diversity, kedua generasi harus dapat melihat dari perspektif yang berbeda dan melihat sebuah perbedaan menjadi potensi untuk menciptakan kekuatan performance yang baru” ujar Dr. Hora Tjitra dalam menjawab pertanyaan mengenai isu perseteruan dari Generasi X dan Generasi Y.

Tagged with:
 

Developing a Positive Workplace Climate to Enhance Productivity and Quality of Life - Stress, Health, and Well-Being Management at Work: a Biopsychosocial approach

Pada hari Sabtu, 3 Mei 2014 bertempat di Gino Feruci Hotel Bandung, HIMPSI (Himpunan Psikologi Seluruh Indonesia) Jawa barat menyelenggarakan sebuah seminar yang bertajuk “Developing a positive climate workplace to enhance productivity and quality of life-stress, health, and well-being management at work : a biopsychosocial apporach.”

Hadir sebagi pembicara adalah Prof. Dr. Djokosantoso Moeljono, direktur utama BRI pada tahun 1993 – 2000, membawakan topik “Pengelolaan aspek manusiawi menuju organisasi efektif” Parlindungan Marpaung, Psikolog., M.Ti., MA, HR konsultan dan inspiring trainer, membawakan topik “Dunia kerja: aktualisasi dan kualitas hidup”, Dr. Hora Tjitra, Executive Director & Chief Consultant Tjitra & Associates, membawakan topik “Developing positive climate in workplace” serta Dr. Ahmad Gimmy Prathama, Psikolog, membawakan topik “Pengembangan employee assistant service di dunia kerja

Acara 2 sesi yang diketuai oleh Dr. Yus Nugraha, M.A., Psikolog ini berjalan dengan sangat menarik. Para panelis pembicara, tidak hanya memberikan penjabaran teoritis saja namun juga mengaitkan materi dengan pengalaman masing-masing pembicara.

Topik pertama pada sesi pertama dimulai dengan pemaparan Prof. Dr. Djokosantoso Moeljono mengenai pengalamannya saat menjadi direktur utama BRI. Ia mengatakan bahwa saat terjadi pergantian kemimpinan, Bank BRI tidak menunjukkan adanya gejolak yang berarti. Ia Juga mengatakan bahwa manusia aset yang sangat menentukan di dalam suatu lembaga termasuk lembaga paling kecil yaitu rumah tangga. Ia mengutip pernyataan Prof. Matsushita yang menyebutkan bahwa hal terpenting yang harus dilakukan terlebih dulu adalah membangun sumber daya manusia terlebih dahulu sebelum menciptakan suatu produk unggulan. Ia juga menekankan bahwa nilai yang harus dijunjung tinggi sebagai pemimpin adalah integritas, disiplin, efektif dalam bekerja dan kasih sayang. Seorang bawahan yang diberikan perhatian akan merasa dihormati dan diperhatikan sehingga ia akan menunjukkan performa terbaiknya. Kesimpulan yang didapat adalah bahwa pembangunan manusia merupakan sebuah pembangunan yang sangat penting dan mendasar dalam membangun sebuah perusahaan. Manusia adalah aset yang terpenting yang dimiliki perusahaan yang harus dipelihara dan dikembangkan.

Topik kedua pada sesi pertama ini, tiba giliran Parlindungan Marpaung, Psikolog., M.Ti., MA, dibantu dengan dr. Indra untuk memberikan materi. Parlindungan Marpaung menekankan keseimbangan dalam hidup Menurutnya manusia harus dapat membagi keseimbangan agar tidak stress dan terhindar dari penyakit seperti stroke, jantung, dsb. Ia juga mengajak untuk memahami bahwa kehidupan adalah sesuatu yang dinamis. Ada pengalaman bahagia, pengalaman mengecewakan maupun pengalaman yang menyedihkan yang semuanya adalah bagian dari perjalanan hidup. Parlindungan Marpaung, Psikolog., M.Ti., M.A juga membicarakan mengenai perubahan. Menurutnya, perubahan harus diterima dan dihadapi, baik suka maupun tidak suka dengan perubahan tersebut. Stress akan muncul ketika seseorang terlalu lama dan bingung menghadapi perubahan tersebut. Meskipun demikian ia menunjukkan bahwa orang mengeluarkan kemampuan terbaiknya ketika berada dalam situasi yang membuat orang tersebut tidak nyaman. Ia juga menyampaikan pernyataan dari Zig Ziglar, bahwa ada hal dalam hidup yang harus kita lakukan secara seimbang untuk mencapai quality of life yang baik, yaitu: Spirituality, finance, health, social relation, self improvement, family, carrier. Sedangkan tujuan hidup kita adalah bagaimana kita bisa mencapai hidup yang berarti.  

Setelah istirahat, Sesi pun dilanjutkan ke sesi kedua. Sesi kedua ini dimulai dengan pemaparan oleh Dr. Hora Tjitra mengenai Iklim positif pada dunia kerja berdasarkan riset dan pengalaman yang dimilikinya. Dr. Hora Tjitra pada awalnya membedakan antara climate dengan budaya. Climate lebih kepada perasaan yang dirasakan seseorang terhadap lingkungan pekerjaannya sedangkan budaya adalah sesuatu yang lebih mendalam. Di Indonesia konflik dalam kaitannya dengan working climate merupakan sesuatu yang negative dan menimbulkan stress. Namun menurut pengalamannya saat bekerja dengan perusahaan di Jerman, banyak perusahaan Jerman yang salah satu kompetensi modelnya adalah conflict management. Hal ini karena orang Jerman percaya bahwa jika tidak ada konflik maka seseorang tidak dapat produktif, tidak maju dan tidak dapat berkembang. Konsep dan kompetensi ini ketika dibawa ke Asia, akan menjadi suatu masalah. Mereka akan melihat orang Asia cenderung tidak kompeten karena bagi orang Asia strateginya adalah menghindari konflik. Working climate asia adalah kekeluargaan, kebersamaanm guyub. Sedangkan working climate Jerman adalah efficiency, effectiveness, suatu keterbukaan dalam konflik, membicarakan masalah secara jelas. Dr. Hora Tjitra menekankan bahwa apabila orang Indonesia ingin sukses di lingkungan internasional, maka diperlukan kemampuan untuk bisa memanagemen konflik hingga level tertentu agar bisa bersaing dengan bangsa lain. Dalam hal kepemimpinan, pemimpin di Indonesia diharapkan sebagai seseorang yang mampu mendengarkan dan mengumpulkan pendapat. Hal ini lah yang membuat Indonesia menggunakan kata rapat yang berarti merapatkan pendapat-pendapat yang ada. Dr. Hora Tjitra mengakhiri pemaparannya dengan mengatakan bahwa pemimpin-pempimpin Indonesia mengaitkan kinerjanya dengan sesuatu yang lebih tinggi seperti agama misalnya bahwa bekerja itu adalah ibadah, bukan hanya mengerjakan sesuatu untuk gaji.

Pembicara ke dua pada sesi ini adalah Dr. Ahmad Gimmy Prathama, Psikolog. Ia memaparkan mengenai pengembangan employee assistant service di dunia kerja. Pada awal pemaparan, Ia mengatakan bahwa dalam meningkatkan produktifitas karyawan, pemimpin harus dapat membuat nyaman karyawannya dalam hal fisik, psikologis dan sosial. Beberapa penelitian juga menyebutkan bahwa pada tahun kedepan, penyakit yang ditimbulkan oleh stress maupun gaya hidup akan semakin meningkat sehingga biaya yang harus ditanggung oleh perusahaan tidak sedikit. Menurut pengalamannya saat menjadi seorang konsultan perusahaan, ia seringkali melatih divisi HRD untuk mempunyai kemampuan konseling untuk membuat karyawan agar tetap produktif. Ia menekankan bahwa keseimbangan antara psikologis, fisik dan sosial agar di jaga untuk menjamin produktifitas karyawan.

Setelah pemaparan selesai diberikan oleh Dr. Ahmad Gimmy Prathama, maka diadakan sebuah sesi tanya jawab agar peserta dapat memahami lebih jauh mengenai pemaparan tersebut. Peserta nampak antusias saat sesi tanya jawab dilakukan. Setelah sesi Tanya jawab selesai, maka sesi ditutup dengan menyimpukan keseluruhan materi yang dibawakan oleh para pembicara yang diberikan. Penyimpulan tersebut dilaksanakan  oleh Dr. Elmira N. Sumintardja, Psikolog. 

Tagged with:
 

(Liburan, Stereotype, dan Prasangka) – oleh: Carlita Setiawan

stereotypeDi dalam benak saya, pertemuan antar budaya selalu menyenangkan. Namun pada kenyataannya tidaklah demikian, banyak keterkejutan yang saya alami ketika mengalami hal tersebut. Hal tersebut dijelaskan oleh Thomas (1999) bahwa di dalam pertemuan antara dua atau lebih budaya  memang seringkai terjadi tumpang tindih antara sistem orientasi budaya yang satu dengan yang lainnya. Adanya situasi tersebut dapat menyebabkan persepsi, pola pikir, ataupun tingkah laku yang selama ini dianggap normal oleh individu menjadi sesuatu yang aneh karena tidak sejalan dengan persepsi, pola pikir, ataupun tingkah laku yang selama ini digunakan untuk mengevaluasi tingkah laku dan pola pikirnya. Hal itulah yang menyebabkan individu mengalami kebingungan, merasa terasing atau bahkan terancam yang dikenal dengan strangeness.

Salah satu kejadian yang saya alami adalah ketika saya berlibur ke Jepang pada tahun 2011 lalu. Pada saat saya sedang berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan di Tokyo dan menaiki eskalator dengan santainya, saya dan rekan mengobrol bersebelahan. Tiba-tiba seorang warga lokal menyerobot menaiki eskalator  melangkahi saya dan rekan dan sedikit mengumpat. Saya dan rekan cukup terkejut akan hal tersebut dan berpikir bahwa warga lokal tersebut sangat tidak sopan dan seenaknya menyerobot. Belakangan saya baru tahu bahwa di Jepang memang ada aturan secara tidak tertulis bahwa bagian sebelah kanan-bagian di mana saya berdiri santai dan ngobrol-  diperuntukkan untuk jalur cepat.  

Situasi yang saya alami ini dapat dijelaskan dari pembahasan mengenai strangeness yang dapat dilihat dari sudut pandang psikologi kognitif. Menurut sudut pandang ini, situasi keterasingan terjadi dikarenakan adanya disonansi kognitif. Disonansi kognitif itu terjadi ketika kita berhadapan dengan sesuatu yang tampak tidak familiar atau tidak sejalan dengan skema ataupun pengalaman kita (Thomas, 1999). Skema yang saya miliki adalah bahwa ketika menaiki eskalator di pusat perbelanjaan, orang bisa berdiri bebas di manapun dan jarang ada orang yang berjalan menyusuri escalator, apalagi sampai diserobot. Strangeness saya alami ketika menemukan kenyataan ternyata di Jepang, tidak boleh berdiri seenaknya ketika menaiki eskalator.

Continue reading »

oleh: Rocky

Saya adalah seorang keturunan Tiong-hoa yang dibesarkan di Jakarta. Pada masa Sekolah Dasar, saya bersekolah di sekolah swasta yang mayoritas muridnya adalah keturunan tiong-hoa. Di dekat sekPemukulanolah saya ada sekolah negri dengan mayoritas keturunan pribumi.

Kejadian yang menurut saya aneh pada saat itu adalah adanya kebiasaan yang dilakukan murid sekolah tetangga saya tersebut. Pada jam pulang sekolah, mereka tidak langsung pulang kerumah melainkan berkumpul sekitar kurang lebih 50 orang dan mencoba masuk ke sekolah saya. Waktu itu, satpam sekolah saya langsung menutup pagar dan melarang kami keluar dari komplek sekolah. Karena tidak diijinkan untuk masuk, tetangga saya ini menunggu di depan sekolah. Tujuan mereka adalah memintai uang ke kami atau biasanya disebut ‘memalak’.

Jika mereka sudah menunggu cukup lama kurang lebih 1 jam dan tetap tidak mau pergi, biasanya kepala sekolah kami akan menelpon kepala sekolah negeri. Setelah ditelpon, selang waktu 5 menit, kepala sekolah tetangga akan datang mengendarai sepeda motor dengan membawa pemukul kasti sambil berteriak, “Bubar, bubar…yang tidak pulang Bapak pukul !!”. Kami yang menonton biasanya  kemudian bersorak” Hore!!…hore!!””, menyemangati Pak Kepala Sekolah tetangga,  seolah-olah dia adalah pahlawan yang mengusir musuh. Kejadian ini terjadi hampir setiap minggu, tidak heran jika sekolah saya  sampai membangun 3 lapis pagar untuk menjaga keamanan murid-muridnya.

Peristiwa rutin ini tentu saja mempengaruhi pola asuh orangtua saya menjadi lebih waspada. Hingga kelas 3 SMP, saya harus pulang diantar jemput dengan kendaraan pribadi. Saya juga tidak diijinkan bermain diluar rumah bersama dengan tetangga sekitar. ‘Pendidikan’ stereoripe terhadap kaum pribumi juga tidak terelakkan saya alami, melalui pesan-pesan yang ditanamkan pada saya, seolah-lah kaum pribumi lebih rendah dan tidak beradab. Mungkin hal ini juga dipengaruhi latar belakang keluarga orangtua saya, yang menjadi korban pembantaian  etnis Tiong-hoa Kalimantan Barat pada tahun 1967.

Continue reading »

Tagged with: