Knowing the nature of one’s dreams and aspirations and understand them, indeed, only the first—yet significant—baby steps towards realizing them. There are tons of works to be done after that and lot of questions one must answer to go forward. Individual needs to understand not only what he wants or where he want to be, but also needs to address all the resources he can utilize to reach it and the challenges he would likely to face.


Inspired by the process of writing a business plan as an entrepreneur who decides to start a company, Bob Aubrey, an expert in human development, developed a tool to help individual to manage his aspirations which was named Personal Enterprise Plan (PEP). By using PEP, individual positioned himself as a entrepreneur of his own life, just like enterpreneur who use a business plan to create strategy for his company. PEP resembles a business plan because  both start with a dream and express a unique identity and make a value proposition. 


However, the PEP is not exactly same with the idea of business plan itself. The first difference is in the scope: a business plan is valid only within an economic context, while a PEP is about all aspects of life. Values are different as well: personal values are defined by the individual, not the marketplace, so the PEP balances a dual set of values. PEP also consider individual’s life aspects such as lifestyle, ethics, identity, cultural enrichment, social relations and family, and the changes in one’s life as he gets older. This means that the definition of success will also be different: a PEP is not only a tool for developing employability and human capital but for broader life enterprises.


In his book, Managing your Aspirations: Developing Personal Enterprise in the Global Workplace, Bob Aubrey shows the process of how dreams can be realized using PEP:


With this framework, PEP will help individual from the earlier steps of identifying the dreams to planning the real actions to realize them.


So, how do you think about it? Are you ready to put your dreams into works?



Source: Aubrey. (2010). Managing your Aspirations : Developing Personal Enterprise in the Global Workplace. Asia: McGraw-Hill Education.



Since the beginning of 2016, Indonesian has entered a new era of ASEAN Economic Community (AEC). As the biggest and most populated country in ASEAN, Indonesia consist 40% of ASEAN. With economic growth approximately higher than 5% and multiple infrastructure program, Indonesia has a big chance to be the pioneer of high income, democratic, and welfare nation among ASEAN countries. Nevertheless, with primordial thought, corruption pandemic, and intolerant fanaticism are getting stronger day by day Indonesia need extra effort to be ASEAN play-maker.

Therefore, what should Indonesian entrepreneurs accomplished in order to optimize the opportunity of AEC? What does Indonesian professionals need to make them truly be an ASEAN influencer? How Indonesian scholars could participate to shape AEC leaders without losing their Indonesian identity? To help professionals, scholars, and private sector be more ready and prepared with their leadership strategies for AEC, the 20th event of Global Indonesian Network will try to facilitate Indonesian leaders in expanding their ideas and acknowledge their doubts on AEC through our multinational speakers from corporate and researcher with panel, moderator and discussions.



Our last event in 2015. With AEC will kick of soon, make sure to put your name on our participant list!

Registration to:



Workshop Poster to Publish

Our upcoming event is in less than two weeks!

Based on OECD (2012), McKinsey Global Institute (2012), and World Bank (2010), Indonesia has an enormous potential to become one of the Top 10 economies in 2030. Inevitably, many multinational companies will establish their resources such as technologies, knowledge and human capital in Indonesia. It needs cultural intelligence and intercultural competencies to integrate two or more culture in one globalized workplace. Successful integration between multinational companies and Indonesian at the workplaces depends on learning efforts from all sides. Although Indonesian unconsciously has developed a high degree of intra-cultural competence in dealing with the extraordinary diversity of their country, they nevertheless are struggling with adapting to the inter-cultural requirements of a global workplace. It is because Indonesian often determined by “Western” culture and do often not match with Indonesian cultural values and norms. Therefore, creating real synergies at workplace becomes a big challenge not only for Indonesia's young professionals but also foreign partners. When culturally different individuals engage with one another, they need to be aware of the cultural commonalities and differences, in order to appreciate them and finally to transform them into the group of synergy. In other words, in the age of globalization, the interacting partners need to develop cultural intelligence and intercultural competencies.

This time for obtaining the true learning about Indonesian foreign partner especially the Swiss, we collaborate with Institut für Kommunikation und Interkulturelle Kompetenz,Hochschule für Technik Rapperswil (HSR).

Intercultural Leadership and Learning is series of events for learning by workshop, business excursion, and conference. These events will take place on 31st of August until 4th September 2015 with two days workshop, two days conference, and one day business excursion. Events main activity will be held in Atma Jaya Catholic University of Indonesia, Jakarta.

During two days workshop (31 Aug. – 1 Sept.) and business excursion (4 Sept.) , experts from the Global Indonesian Networks and HSR will provide you with both, results of intercultural research about the dynamics of Swiss-Indonesian cooperation as well as strategies for developing synergies in daily cooperation.

With only 24 seats available, make sure to put your name on our participants list!




Pada Kamis, 6 Agustus lalu Dr. Hora Tjitra, Executive     Director dari Tjitra & Associate serta founder dari Global Indonesian Network berkesempatan untuk menjadi pembicara pada Forum Human Capital Indonesia (FHCI). FHCI merupakan sebuah forum yang digagas oleh para praktisi HR khusus dari BUMN. Forum yang bertujuan untuk menjadi think-thank bagi para HR BUMN dalam saling sharing problem solving ini dilaksanakan secara rutin dan bergilir. Kali ini AirNav Indonesia, sebagai satu-satunya BUMN yang bergerak dalam bidang navigasi udara  mendapatkan giliran untuk menjadi host dengan menggagas tema mengenai Global Leader for BUMN. Sharing session pada kesempatan tersebut diadakan di kantor pusat AirNav Indonesia yang terletak di Tangerang. Peserta yang hadir pun datang dari BUMN terkemuka seperti Garuda, PT. PAL, Telkom, Krakatau Steel, Wijaya Karya, dan tentunya AirNav Indonesia. Mengutip ketua Umum FHCI periode 2015 – 2016 yaitu Herdy Harman pada pidato pembukanya, bahwa setiap pengelola SDM, BOD dan komisioner dari Stateholder harus memiliki dimensi International Perspective. Karena global leadership kelak akan dijadikan parameter assessment di Kementrian BUMN. Oleh karena itu Human Capital menjadi trend, dengan mengedepankan nilai “people is the core” agar FHCI dapat membantu kemajuan BUMN.

Dalam sharing session-nya, Dr. Hora Tjitra banyak membahas mengenai Global Competence yang perlu diketahui oleh Global Leader dalam persiapan menuju kerjasama dan juga kompetisi Internasional. Dr. Hora Tjitra juga menekankan bahwa Indonesia telah menjadi Darling Spot bagi international business dan menjadi bahan pertimbangan perusahaan asing untuk berekspansi. Internasionalisasi dan kompetisi global menjadi hal yang booming di Indonesia, hal ini dapat dilihat dari dana yang dialokasikan untuk Leadership Development kepada para executives di Indonesia yang akan menarik potensi asing yang datang ke Indonesia. Dr. Hora  Tjitra juga menekankan bahwa setelah potensi asing datang maka executives Indonesia harus dapat membimbing ketertarikan dunia internasional ke Indonesia menjadi realita dan merubah investasi asing untuk mendapatkan keuntungan yang lebih banyak bagi Indonesia. Pengalaman budaya  masyarakat Indonesia yang diverse (Intercultural Competence) dan Culture Sensitivity orang Indonesia juga merupakan suatu benefit. Culture bukan hanya mengenai internasionalisasi, akan tetapi kacamata yang dipakai seseorang dalam melihat suatu isu dan mengadaptasikan sensitivitasnya melihat isu tersebut.


Jimmy Gani, Ph.D sebagai Keynote Speaker setelahnya menekankan pentingnya kompetisi dan kerjasama regional, mengingat AEC yang akan dilaksanakan pada Desember 2015. Ia menambahkan bahwa Indonesia adalah negara yang telah mempunyai potensi luar biasa namun pada sisi daya saing masih banyak yang harus diperbaiki. Untuk menambahkan daya saing, Indonesian Global Leader harus mempunyai Global Mindset. Dalam jaman borderless nation sekarang ini, business bukan hanya mengenai Global Chain tetapi juga Global Value. Ia juga menekankan mengenai customer trend yaitu metode yang mengedepankan customer yang diaplikasikan oleh Worldclass Company masa kini.

Salah satu pertanyaan pada sesi tanya jawab dan ngobrol santai dalam Global Leader for BUMN sharing session adalah bagaimana caranya untuk menarik minat potensi asing yang telah mempunyai pandangan tertentu yaitu ketidak-tertarikan dalam melihat Indonesia, khususnya melihat BUMN di mata potensi asing. Dalam menanggapi pertanyaan ini, Dr. Hora Tjitra berpendapat bahwa hal tersebut berpusat pada Ethnocentrism, oleh karena itu hal tersebut dapat dirubah dengan mengganti kacamata culture yang dikenakan oleh orang tersebut terhadap kita melalui cara menjelaskan keadaan Indonesia dalam cara yang singkat dan menarik dengan menggunakan kacamata pihak asing tersebut. Acara FHCI kali ini diakhiri dengan halal-bihalal diantara seluruh peserta yang hadir. 




Invitation GINET15 v.5 copy.001

Here is our upcoming event that will be held in this March 2015. Want to know what the topic that will be discussed about? Do not hesitate to contact our contact person (Indah Suciati: 0856 4151 2129  / 0897 9828 051)

To get updates on the event please follow our social media platform (twitter, facebook)





Coming Soon Teaser 2014The 14th Event of Global Indonesian Network. Coming to you by the end of 2014.

To get updates on the event Follow

Like Global Indonesian Network Facebook Page 

Join our LinkedIn Discussions


Our Previous Event : 

Tagged with:

Pada hari Kamis, 28 Agustus 2014 bertempat di Gran Melia Hotel Jakarta, LPTUI (Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia) menyelenggarakan sebuah seminar yang bertemakan “Generasi Y Indonesia.”

Seminar yang diselanggarakan dalam rangka memperingati hari ulang tahun dari LPTUI ini menghadirkan dua pembicara papan atas dalam bidang psikologi yakni Dr. Hora Tjitra, Executive Director serta Chief Consultant dari Tjitra & Associates yang membawakan topik mengenai “Managing Diversity: Generation Clash at Workplace” dan Dr. Bagus Takwin, Dosen Fakultas Psikologi di Universitas Indonesia yang membahas mengenai “Seberapa Jauh Generasi Y Berbeda: Karakteristik Psikologis Generasi Y dan Implikasinya di Dunia Kerja

Topik pada sesi pertama dimulai dengan penjelasan dari Dr. Hora Tjitra mengenai generasi Y dalam dunia kerja dan nilai-nilai yang mereka junjung. Dr. Hora Tjitra banyak bercerita mengenai Cultural Diversity serta pertentangan-pertentangan nilai yang terjadi di setiap negara berdasarkan pengalamannya belajar dan bekerja di Jerman dan China selama lebih dari 10 tahun. Bahwa banyak terjadi clash dalam tiap generasi yang menilai bahwa generasi yang ada sesudahnya memiliki ambisi yang tinggi dengan mengorbankan nilai kesopanan. Dalam presentasinya. Tjitra juga memaparkan mengenai generasi-generasi yang ada beserta perbedaannya mulai dari Baby Boomers yang lahir antara tahun 1940-1960, Generation X yang lahir pada tahun 1960-1980, dan Generation Y yang lahir dari tahun 1980-2000 serta bagaimana proses pembentukan mental tiap generasi tidak lepas dari Historical Events yang terjadi di negaranya pada tahun yang bersangkutan. Salah satu contohnya adalah bagaimana generasi Baby boomers memiliki mental yang lebih tangguh dikarenakan perang yang berkecamuk di era kelahiran mereka. Sementara generasi Y dikarenakan mudahnya jaringan informasi dan tingginya tingkat toleransi dalam mengutarakan pendapat dibanding generasi sebelumnya, memberi pengaruh bagi generasi Y untuk lebih berani, kritis dan ekspresif dalam menyuarakan apa yang ada di dalam benaknya.

Setelah break sejenak, Dr. Bagus Takwin menjelaskan mengenai topik “Seberapa Jauh Generasi Y Berbeda : Karakteristik Psikologis Generasi Y dan Implikasinya di Dunia Kerja”.  Sebagai seorang akademisi psikologi dari salah satu universitas terkemuka di Indonesia, ia memiliki banyak interaksi dengan generasi Y yang menimba ilmu di unversitas tersebut. Berangkat dari hal tersebut, Dr. Bagus Takwin mengadakan penelitian mengenai perbandingan Nilai Moral yang ada di generasi X dan generasi Y.  Berdasarkan penelitiannya terhadap 2417 orang responden, nampak bahwa terjadi perbedaan signifikan pada nilai moral generasi X yang lebih tinggi dari generasi Y. Karena berdasarkan kebutuhan psikologis generasi Y yang menjadi prioritas adalah kebutuhan Eksebisi (Kebutuhan untuk menjadi pusat perhatian), Afiliasi (Kebutuhan untuk membentuk persahabatan yang kuat), dan Succorance (Kebutuhan akan adanya seseorang untuk menerima dukungan dan perhatian orang lain).

Berbagai pertanyaan menarik datang dari para peserta yang menghadiri seminar saat sesi tanya jawab. Mulai dari akademisi yang datang dari Universitas Hasanuddin Makassar, para praktisi HR dari perusahaan-perusahaan terkemuka seperti Garuda Indonesia, Astra International, hingga Pegawai Negeri Sipil yang terlihat sangat antusias untuk bertanya dan melakukan diskusi dengan Dr. Hora Tjitra dan Dr. Bagus Takwin mengenai topik terkait. “Dalam menghargai Diversity, kedua generasi harus dapat melihat dari perspektif yang berbeda dan melihat sebuah perbedaan menjadi potensi untuk menciptakan kekuatan performance yang baru” ujar Dr. Hora Tjitra dalam menjawab pertanyaan mengenai isu perseteruan dari Generasi X dan Generasi Y.

Tagged with: