Coming Soon Teaser 2014The 14th Event of Global Indonesian Network. Coming to you by the end of 2014.

To get updates on the event Follow https://twitter.com/Glob_Indonesian

Like Global Indonesian Network Facebook Page http://on.fb.me/1tDAY5q 

Join our LinkedIn Discussions http://linkd.in/1v4JYGA

 

Our Previous Event : 

Tagged with:
 

Pada hari Kamis, 28 Agustus 2014 bertempat di Gran Melia Hotel Jakarta, LPTUI (Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia) menyelenggarakan sebuah seminar yang bertemakan “Generasi Y Indonesia.”

Seminar yang diselanggarakan dalam rangka memperingati hari ulang tahun dari LPTUI ini menghadirkan dua pembicara papan atas dalam bidang psikologi yakni Dr. Hora Tjitra, Executive Director serta Chief Consultant dari Tjitra & Associates yang membawakan topik mengenai “Managing Diversity: Generation Clash at Workplace” dan Dr. Bagus Takwin, Dosen Fakultas Psikologi di Universitas Indonesia yang membahas mengenai “Seberapa Jauh Generasi Y Berbeda: Karakteristik Psikologis Generasi Y dan Implikasinya di Dunia Kerja

Topik pada sesi pertama dimulai dengan penjelasan dari Dr. Hora Tjitra mengenai generasi Y dalam dunia kerja dan nilai-nilai yang mereka junjung. Dr. Hora Tjitra banyak bercerita mengenai Cultural Diversity serta pertentangan-pertentangan nilai yang terjadi di setiap negara berdasarkan pengalamannya belajar dan bekerja di Jerman dan China selama lebih dari 10 tahun. Bahwa banyak terjadi clash dalam tiap generasi yang menilai bahwa generasi yang ada sesudahnya memiliki ambisi yang tinggi dengan mengorbankan nilai kesopanan. Dalam presentasinya. Tjitra juga memaparkan mengenai generasi-generasi yang ada beserta perbedaannya mulai dari Baby Boomers yang lahir antara tahun 1940-1960, Generation X yang lahir pada tahun 1960-1980, dan Generation Y yang lahir dari tahun 1980-2000 serta bagaimana proses pembentukan mental tiap generasi tidak lepas dari Historical Events yang terjadi di negaranya pada tahun yang bersangkutan. Salah satu contohnya adalah bagaimana generasi Baby boomers memiliki mental yang lebih tangguh dikarenakan perang yang berkecamuk di era kelahiran mereka. Sementara generasi Y dikarenakan mudahnya jaringan informasi dan tingginya tingkat toleransi dalam mengutarakan pendapat dibanding generasi sebelumnya, memberi pengaruh bagi generasi Y untuk lebih berani, kritis dan ekspresif dalam menyuarakan apa yang ada di dalam benaknya.

Setelah break sejenak, Dr. Bagus Takwin menjelaskan mengenai topik “Seberapa Jauh Generasi Y Berbeda : Karakteristik Psikologis Generasi Y dan Implikasinya di Dunia Kerja”.  Sebagai seorang akademisi psikologi dari salah satu universitas terkemuka di Indonesia, ia memiliki banyak interaksi dengan generasi Y yang menimba ilmu di unversitas tersebut. Berangkat dari hal tersebut, Dr. Bagus Takwin mengadakan penelitian mengenai perbandingan Nilai Moral yang ada di generasi X dan generasi Y.  Berdasarkan penelitiannya terhadap 2417 orang responden, nampak bahwa terjadi perbedaan signifikan pada nilai moral generasi X yang lebih tinggi dari generasi Y. Karena berdasarkan kebutuhan psikologis generasi Y yang menjadi prioritas adalah kebutuhan Eksebisi (Kebutuhan untuk menjadi pusat perhatian), Afiliasi (Kebutuhan untuk membentuk persahabatan yang kuat), dan Succorance (Kebutuhan akan adanya seseorang untuk menerima dukungan dan perhatian orang lain).

Berbagai pertanyaan menarik datang dari para peserta yang menghadiri seminar saat sesi tanya jawab. Mulai dari akademisi yang datang dari Universitas Hasanuddin Makassar, para praktisi HR dari perusahaan-perusahaan terkemuka seperti Garuda Indonesia, Astra International, hingga Pegawai Negeri Sipil yang terlihat sangat antusias untuk bertanya dan melakukan diskusi dengan Dr. Hora Tjitra dan Dr. Bagus Takwin mengenai topik terkait. “Dalam menghargai Diversity, kedua generasi harus dapat melihat dari perspektif yang berbeda dan melihat sebuah perbedaan menjadi potensi untuk menciptakan kekuatan performance yang baru” ujar Dr. Hora Tjitra dalam menjawab pertanyaan mengenai isu perseteruan dari Generasi X dan Generasi Y.

Tagged with:
 

Developing a Positive Workplace Climate to Enhance Productivity and Quality of Life - Stress, Health, and Well-Being Management at Work: a Biopsychosocial approach

Pada hari Sabtu, 3 Mei 2014 bertempat di Gino Feruci Hotel Bandung, HIMPSI (Himpunan Psikologi Seluruh Indonesia) Jawa barat menyelenggarakan sebuah seminar yang bertajuk “Developing a positive climate workplace to enhance productivity and quality of life-stress, health, and well-being management at work : a biopsychosocial apporach.”

Hadir sebagi pembicara adalah Prof. Dr. Djokosantoso Moeljono, direktur utama BRI pada tahun 1993 – 2000, membawakan topik “Pengelolaan aspek manusiawi menuju organisasi efektif” Parlindungan Marpaung, Psikolog., M.Ti., MA, HR konsultan dan inspiring trainer, membawakan topik “Dunia kerja: aktualisasi dan kualitas hidup”, Dr. Hora Tjitra, Executive Director & Chief Consultant Tjitra & Associates, membawakan topik “Developing positive climate in workplace” serta Dr. Ahmad Gimmy Prathama, Psikolog, membawakan topik “Pengembangan employee assistant service di dunia kerja

Acara 2 sesi yang diketuai oleh Dr. Yus Nugraha, M.A., Psikolog ini berjalan dengan sangat menarik. Para panelis pembicara, tidak hanya memberikan penjabaran teoritis saja namun juga mengaitkan materi dengan pengalaman masing-masing pembicara.

Topik pertama pada sesi pertama dimulai dengan pemaparan Prof. Dr. Djokosantoso Moeljono mengenai pengalamannya saat menjadi direktur utama BRI. Ia mengatakan bahwa saat terjadi pergantian kemimpinan, Bank BRI tidak menunjukkan adanya gejolak yang berarti. Ia Juga mengatakan bahwa manusia aset yang sangat menentukan di dalam suatu lembaga termasuk lembaga paling kecil yaitu rumah tangga. Ia mengutip pernyataan Prof. Matsushita yang menyebutkan bahwa hal terpenting yang harus dilakukan terlebih dulu adalah membangun sumber daya manusia terlebih dahulu sebelum menciptakan suatu produk unggulan. Ia juga menekankan bahwa nilai yang harus dijunjung tinggi sebagai pemimpin adalah integritas, disiplin, efektif dalam bekerja dan kasih sayang. Seorang bawahan yang diberikan perhatian akan merasa dihormati dan diperhatikan sehingga ia akan menunjukkan performa terbaiknya. Kesimpulan yang didapat adalah bahwa pembangunan manusia merupakan sebuah pembangunan yang sangat penting dan mendasar dalam membangun sebuah perusahaan. Manusia adalah aset yang terpenting yang dimiliki perusahaan yang harus dipelihara dan dikembangkan.

Topik kedua pada sesi pertama ini, tiba giliran Parlindungan Marpaung, Psikolog., M.Ti., MA, dibantu dengan dr. Indra untuk memberikan materi. Parlindungan Marpaung menekankan keseimbangan dalam hidup Menurutnya manusia harus dapat membagi keseimbangan agar tidak stress dan terhindar dari penyakit seperti stroke, jantung, dsb. Ia juga mengajak untuk memahami bahwa kehidupan adalah sesuatu yang dinamis. Ada pengalaman bahagia, pengalaman mengecewakan maupun pengalaman yang menyedihkan yang semuanya adalah bagian dari perjalanan hidup. Parlindungan Marpaung, Psikolog., M.Ti., M.A juga membicarakan mengenai perubahan. Menurutnya, perubahan harus diterima dan dihadapi, baik suka maupun tidak suka dengan perubahan tersebut. Stress akan muncul ketika seseorang terlalu lama dan bingung menghadapi perubahan tersebut. Meskipun demikian ia menunjukkan bahwa orang mengeluarkan kemampuan terbaiknya ketika berada dalam situasi yang membuat orang tersebut tidak nyaman. Ia juga menyampaikan pernyataan dari Zig Ziglar, bahwa ada hal dalam hidup yang harus kita lakukan secara seimbang untuk mencapai quality of life yang baik, yaitu: Spirituality, finance, health, social relation, self improvement, family, carrier. Sedangkan tujuan hidup kita adalah bagaimana kita bisa mencapai hidup yang berarti.  

Setelah istirahat, Sesi pun dilanjutkan ke sesi kedua. Sesi kedua ini dimulai dengan pemaparan oleh Dr. Hora Tjitra mengenai Iklim positif pada dunia kerja berdasarkan riset dan pengalaman yang dimilikinya. Dr. Hora Tjitra pada awalnya membedakan antara climate dengan budaya. Climate lebih kepada perasaan yang dirasakan seseorang terhadap lingkungan pekerjaannya sedangkan budaya adalah sesuatu yang lebih mendalam. Di Indonesia konflik dalam kaitannya dengan working climate merupakan sesuatu yang negative dan menimbulkan stress. Namun menurut pengalamannya saat bekerja dengan perusahaan di Jerman, banyak perusahaan Jerman yang salah satu kompetensi modelnya adalah conflict management. Hal ini karena orang Jerman percaya bahwa jika tidak ada konflik maka seseorang tidak dapat produktif, tidak maju dan tidak dapat berkembang. Konsep dan kompetensi ini ketika dibawa ke Asia, akan menjadi suatu masalah. Mereka akan melihat orang Asia cenderung tidak kompeten karena bagi orang Asia strateginya adalah menghindari konflik. Working climate asia adalah kekeluargaan, kebersamaanm guyub. Sedangkan working climate Jerman adalah efficiency, effectiveness, suatu keterbukaan dalam konflik, membicarakan masalah secara jelas. Dr. Hora Tjitra menekankan bahwa apabila orang Indonesia ingin sukses di lingkungan internasional, maka diperlukan kemampuan untuk bisa memanagemen konflik hingga level tertentu agar bisa bersaing dengan bangsa lain. Dalam hal kepemimpinan, pemimpin di Indonesia diharapkan sebagai seseorang yang mampu mendengarkan dan mengumpulkan pendapat. Hal ini lah yang membuat Indonesia menggunakan kata rapat yang berarti merapatkan pendapat-pendapat yang ada. Dr. Hora Tjitra mengakhiri pemaparannya dengan mengatakan bahwa pemimpin-pempimpin Indonesia mengaitkan kinerjanya dengan sesuatu yang lebih tinggi seperti agama misalnya bahwa bekerja itu adalah ibadah, bukan hanya mengerjakan sesuatu untuk gaji.

Pembicara ke dua pada sesi ini adalah Dr. Ahmad Gimmy Prathama, Psikolog. Ia memaparkan mengenai pengembangan employee assistant service di dunia kerja. Pada awal pemaparan, Ia mengatakan bahwa dalam meningkatkan produktifitas karyawan, pemimpin harus dapat membuat nyaman karyawannya dalam hal fisik, psikologis dan sosial. Beberapa penelitian juga menyebutkan bahwa pada tahun kedepan, penyakit yang ditimbulkan oleh stress maupun gaya hidup akan semakin meningkat sehingga biaya yang harus ditanggung oleh perusahaan tidak sedikit. Menurut pengalamannya saat menjadi seorang konsultan perusahaan, ia seringkali melatih divisi HRD untuk mempunyai kemampuan konseling untuk membuat karyawan agar tetap produktif. Ia menekankan bahwa keseimbangan antara psikologis, fisik dan sosial agar di jaga untuk menjamin produktifitas karyawan.

Setelah pemaparan selesai diberikan oleh Dr. Ahmad Gimmy Prathama, maka diadakan sebuah sesi tanya jawab agar peserta dapat memahami lebih jauh mengenai pemaparan tersebut. Peserta nampak antusias saat sesi tanya jawab dilakukan. Setelah sesi Tanya jawab selesai, maka sesi ditutup dengan menyimpukan keseluruhan materi yang dibawakan oleh para pembicara yang diberikan. Penyimpulan tersebut dilaksanakan  oleh Dr. Elmira N. Sumintardja, Psikolog. 

Tagged with:
 

(Liburan, Stereotype, dan Prasangka) – oleh: Carlita Setiawan

stereotypeDi dalam benak saya, pertemuan antar budaya selalu menyenangkan. Namun pada kenyataannya tidaklah demikian, banyak keterkejutan yang saya alami ketika mengalami hal tersebut. Hal tersebut dijelaskan oleh Thomas (1999) bahwa di dalam pertemuan antara dua atau lebih budaya  memang seringkai terjadi tumpang tindih antara sistem orientasi budaya yang satu dengan yang lainnya. Adanya situasi tersebut dapat menyebabkan persepsi, pola pikir, ataupun tingkah laku yang selama ini dianggap normal oleh individu menjadi sesuatu yang aneh karena tidak sejalan dengan persepsi, pola pikir, ataupun tingkah laku yang selama ini digunakan untuk mengevaluasi tingkah laku dan pola pikirnya. Hal itulah yang menyebabkan individu mengalami kebingungan, merasa terasing atau bahkan terancam yang dikenal dengan strangeness.

Salah satu kejadian yang saya alami adalah ketika saya berlibur ke Jepang pada tahun 2011 lalu. Pada saat saya sedang berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan di Tokyo dan menaiki eskalator dengan santainya, saya dan rekan mengobrol bersebelahan. Tiba-tiba seorang warga lokal menyerobot menaiki eskalator  melangkahi saya dan rekan dan sedikit mengumpat. Saya dan rekan cukup terkejut akan hal tersebut dan berpikir bahwa warga lokal tersebut sangat tidak sopan dan seenaknya menyerobot. Belakangan saya baru tahu bahwa di Jepang memang ada aturan secara tidak tertulis bahwa bagian sebelah kanan-bagian di mana saya berdiri santai dan ngobrol-  diperuntukkan untuk jalur cepat.  

Situasi yang saya alami ini dapat dijelaskan dari pembahasan mengenai strangeness yang dapat dilihat dari sudut pandang psikologi kognitif. Menurut sudut pandang ini, situasi keterasingan terjadi dikarenakan adanya disonansi kognitif. Disonansi kognitif itu terjadi ketika kita berhadapan dengan sesuatu yang tampak tidak familiar atau tidak sejalan dengan skema ataupun pengalaman kita (Thomas, 1999). Skema yang saya miliki adalah bahwa ketika menaiki eskalator di pusat perbelanjaan, orang bisa berdiri bebas di manapun dan jarang ada orang yang berjalan menyusuri escalator, apalagi sampai diserobot. Strangeness saya alami ketika menemukan kenyataan ternyata di Jepang, tidak boleh berdiri seenaknya ketika menaiki eskalator.

Continue reading »

oleh: Rocky

Saya adalah seorang keturunan Tiong-hoa yang dibesarkan di Jakarta. Pada masa Sekolah Dasar, saya bersekolah di sekolah swasta yang mayoritas muridnya adalah keturunan tiong-hoa. Di dekat sekPemukulanolah saya ada sekolah negri dengan mayoritas keturunan pribumi.

Kejadian yang menurut saya aneh pada saat itu adalah adanya kebiasaan yang dilakukan murid sekolah tetangga saya tersebut. Pada jam pulang sekolah, mereka tidak langsung pulang kerumah melainkan berkumpul sekitar kurang lebih 50 orang dan mencoba masuk ke sekolah saya. Waktu itu, satpam sekolah saya langsung menutup pagar dan melarang kami keluar dari komplek sekolah. Karena tidak diijinkan untuk masuk, tetangga saya ini menunggu di depan sekolah. Tujuan mereka adalah memintai uang ke kami atau biasanya disebut ‘memalak’.

Jika mereka sudah menunggu cukup lama kurang lebih 1 jam dan tetap tidak mau pergi, biasanya kepala sekolah kami akan menelpon kepala sekolah negeri. Setelah ditelpon, selang waktu 5 menit, kepala sekolah tetangga akan datang mengendarai sepeda motor dengan membawa pemukul kasti sambil berteriak, “Bubar, bubar…yang tidak pulang Bapak pukul !!”. Kami yang menonton biasanya  kemudian bersorak” Hore!!…hore!!””, menyemangati Pak Kepala Sekolah tetangga,  seolah-olah dia adalah pahlawan yang mengusir musuh. Kejadian ini terjadi hampir setiap minggu, tidak heran jika sekolah saya  sampai membangun 3 lapis pagar untuk menjaga keamanan murid-muridnya.

Peristiwa rutin ini tentu saja mempengaruhi pola asuh orangtua saya menjadi lebih waspada. Hingga kelas 3 SMP, saya harus pulang diantar jemput dengan kendaraan pribadi. Saya juga tidak diijinkan bermain diluar rumah bersama dengan tetangga sekitar. ‘Pendidikan’ stereoripe terhadap kaum pribumi juga tidak terelakkan saya alami, melalui pesan-pesan yang ditanamkan pada saya, seolah-lah kaum pribumi lebih rendah dan tidak beradab. Mungkin hal ini juga dipengaruhi latar belakang keluarga orangtua saya, yang menjadi korban pembantaian  etnis Tiong-hoa Kalimantan Barat pada tahun 1967.

Continue reading »

Tagged with:
 

oleh: Vincentia A. Stephanie Gozali

kota-kota-terbersih-di-indonesia-2Beberapa tahun yang lalu, saya pergi berlibur ke Yogyakarta.Sebagai turis lokal yang berasal dari Palembang, tentunya saya bertujuan mengunjungi tempat wisata yang ada disana. Moda transportasi yang saya gunakan adalah becak. Mencari becak cukup mudah dan para penarik becak jugamengetahui tempat-tempat wisata yang biasa dikunjungi oleh turis lokal maupun asing. Mereka juga cukup ramah terhadap turiskarena  biasanya penarik becak dan penumpang akan saling mengobrol. Hal seperti ini tentunya sangat menyenangkan bagi turis karena merasa diterima dan dilayani oleh penduduk lokal.

Pada suatu ketika, saat sedang berada di becak, saya dengan santainya saya bersiul. Di jalanan yang saya lalui waktu itu juga terdapat burung-burung peliharan warga. Perjalanan serta lingkungan pada waktu itu sangat menyenangkan dan pas sekali untuk diselingi dengan siulan. Namun tanpa saya sangka, saat sedang bersiul, penarik becak saya menegur saya dan mengatakan bahwa saya dilarang bersiul. Saya menanyakan alasannya dan ia hanya mengatakan tidak boleh kemudian diam sepanjang perjalanan menuju tempat tujuan saya.

Saya heran dengan larangannya kepada saya untuk tidak bersiul. Dan lebih herannya lagi adalah penarik becak tersebut menjadi berubah perilakunya kepada saya setelah ia melarang saya bersiul. Padahal menurut saya, bersiul itu sah-sah saja apalagi ketika “memancing” burung untuk berkicau. Sejak dulu saya diajarkan untuk bersiul dan tidak ada larangan sama sekali untuk bersiul. Bahkan akan diajarkan bersiul sampai lancar karena diperlukan juga untuk melatih burung peliharan agar bisa bersiul.

Karena masih tetap bingung dan tidak mendapat penjelasan, saya menanyakan larangan bersiul tersebut kepada kakak saya yang memang sudah lama bersekolah di Yogyakarta. Ia mengatakan bahwa menurut adat orang Jawa, anak perempuan dilarang bersiul. Akhirnya saya pun menurut untuk tidak bersiul di tengah jalan saat di Yogyakarta walaupun saya masih merasa bingung.

Continue reading »

Tagged with:
 

oleh: Evania Kristiani

Pengalaman saya saat bertemu dengan budaya berbeda yang paling teringat pada saat mengikuti pertukaran pelajar khomestay_familye Brisbane, Australia saat duduk dikelas 3 (tiga) SMA semester pertama. Program ini dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kota Semarang bagi perwakilan siswa dari sekolah yang merintis menjadi standar internasional di Kota Semarang. Pada saat itu saya dituntut harus tinggal selama hampir 2 (dua) bulan sendirian di salah satu keluarga berkebangsaan Australia. Keluarga tersebut terdiri atas sepasang suami istri dan 2 (dua) orang anak.

Sebelum berangkat, saya sudah memiliki pemikiran bahwa saat tinggal disana nanti akan merasa tidak nyaman dan harus kerja kerasa beradaptasi dengan lingkungan berbeda: menu makanan dan pola hidup yang berbeda, belum lagi pola sosialisasi dan interaksi dengan lawan jenis yang pastinya kontras dengan keseharian saya. Pemikiran saya mengenai bagaimana keadaaan saya saat akan tinggal disana ini dapat dikatakan sebagai stereotype, yaitu penilaian penyerdehanaan atau suatu pandangan yang terbentuk dalam pikiran bisa berasal dari aspek kognitif ataupun afektif (Lipman dalam Gudykunst, 1997) Stereotype yang saya bentuk mengenai pola hidup orang Australia berasal dari pengetahuan yang didapatkan dari media mengenai bagaimana pola hidup orang Australia.

Pada kenyataannya,  dalam seminggu pertama saya tinggal bersama keluarga angkat saya di Brisbane, yang terjadi sangat berbeda dengan pemikiran yang saya bayangkan, terutama mengenai cara mereka bersosialisasi dan menu makanan. Hari pertama, orang tua angkat saya sudah menawarkan untuk menyiapkan menu makanan seperti di Indonesia, jika saya menginginkannya. Bahkan mereka sudah membeli salah satu merek mie instant Indonesia agar saya betah tinggal bersama dengan mereka. Selain itu saya diperbolehkan untuk mandi sesering kebiasaan saya di Indonesia dan menyalakan lampu kamar karena saya tidak biasa tidur dengan lampu gelap. Stereotype saya mengenai warga berkebangsaan Australia berubah. Pada dasarnya mereka dapat menghormati budaya dan kebiasaan saya sebagai warga berkebangsaan Indonesia yang hampir setiap hari mendapatkan asupan karbohidrat dari nasi.

Meski demikian, bukan berarti saya tidak punya masalah adapatasi. Gaya hidup dan kebiasaan warga kebangsaan Australia yang selalu tepat waktu cukup menyulitkan saya. Setiap harinya  orangtua angkat saya mengantar saya dan kedua saudara angkat saya. Kebiasaan saya di Indonesia yang tidak tepat waktu membuat saya beberapa kali ditinggal dan saya harus menunggu bis sekolah. Waktu itu Brisbane sedang musim penghujan sehingga saya sering kehujanan. Hal ini cukup membuat saya kurang nyaman, meskipun jika saya kehujanan saat pulang sekolah, ibu angkat saya akan membuatkan coklat panas.  Di Brisbane saya baru merasakan tidak enaknya kalau tidak ada macet karena semuanya menjadi tepat waktu.

Continue reading »

Ditulis oleh: Christina Anjar

meeting2Pertemuan budaya yang pernah saya alami adalah ketika saya bekerja sebagai recruitment officer di sebuah perusahaan Jepang. Sebelumnya, saya telah memiliki pandangan bahwa orang Jepang terkenal dengan kedisiplinan, kerapihan dan dedikasi yang tinggi dalam bekerja. Ketiga hal ini cukup tergambar dari atmosfer kerja yang tercipta di perusahaan ini, khususnya divisi HR. Budaya kerja yang disiplin, rapi, penuh rasa hormat, ditambah dengan rasa kebersamaan dan kekeluargaan, serta kerelaan untuk bekerja lembur sudah mengakar ke seluruh lapisan perusahaan. Sehingga karyawan baru seperti saya pada waktu itu harus peka melihat budaya tersebut dan harus segera menyesuaikan diri.

Namun ternyata ada hambatan komunikasi yang tidak saya antisipasi sebelumya. Rata-rata ekspatriat Jepang tidak terlalu mahir bahasa Inggris, termasukpimpinanpuncaknya. Beliau menggunakan bahasa Inggris dengan logat Jepang yang seringkali sulit dimengerti. Terlebih lagi, tidak ada penterjemah untuk menjembatani percakapan kami. Akibatnya kami harus sama-sama berbicara dengan tempo lambat dan menggunakan bahasa sejelas dan semudah mungkin. Saya sendiri berusaha untuk menggunakan bahasa tubuh untuk mendukung penjelasan saya. Dalam hal ini, percakapan dapat tertolong dengan adanya hasil kerja / laporan dalam bentuk print-out yang selalu saya sertakan.

Masalah lain yang saya alami yaitu minimnya ekspresi wajah dan tanggapan dari bos besar saya ketika berinteraksi. Minimnya wajah dan tanggapan tersebut menggambarkan sebetulnya sejalan dengan yang ciri masyarakat reactive (Lewis, 2006) dan sama dengan kategori Indonesia.  Yang termasuk ke dalam ciri utama orang Reactive adalah kemampuan mendengar yang sangat baik, mahir dalam komunikasi non-verbal, serta nilai-nilai kesopanan. Dalam pengalaman saya tersebut, bos besar saya terkesan menunjukkan atensi terhadap apa yang saya sampaikan (yaitu report hasil evaluasi psikologis calon sekretaris) dan tidak menginterupsi sama sekali. Tidak mengherankan maka pola komunikasi kami terjadi seperti yang dijelaskan dalam buku karangan Lewis (2006) tentang pola komunikasi masyarakat reactive. Pembicara diberi kesempatan untuk menyelesaikan monolog-nya sementara si pendengar bertugas menyimak dan memikirkan kalimat balasan apa yang nantinya perlu disampaikan ketika giliran berbicaranya sudah tiba.

Continue reading »